Pedagang Acung, antara himpitan ekonomi dan gangguan pariwisata

pedagang acung dikawasan wisataPernah suatu saat kami menghilangkan penat keseharian dengan jalan-jalan di kawasan pariwisata, saat itu kami hendak menikmati suasana sejuk pegunungan disalah satu kawasan wisata pegunungan di bali. Saat hendak turun dari kendaraan sejumlah pedagang acung menghampiri kami. untuk menghargai usaha mereka sejenak saya melirik barang dagangan mereka, yg saya lihat adalah pernak-pernik kerajinan tangan lokal seperti gelang, kalung, cincin, bollpoint dari bambu dan kerajinan lainnya seperti selendang, dan baju buatan lokal yang saya yakin itu bukan kerajinan setempat
, anda akan banyak menemui barang kerajinan sejenis di Pasar Seni Sukawati kabupaten gianyar di bali. Merasa tidak membutuhkan barang kerajinan tersebut (maklum, saya juga orang bali yg rumahnya tak sebegitu jauh dari Sukawati) maka saya menolak tawaran mereka, namun sekitar 10-15meter sejak kami menginjakkan kaki dari kendaraan, pedagang acung tersebut masih mengejar kami untuk menjual dagangan mereka, kembali saya tolak dengan halus, namun semangat jualan mereka memang tak tergoyahkan, beberapa dari mereka yang saya ingat sempat berkata "Dibeli satu pak buat pengelaris" dan yang lain berkata "Minta tolong pak barang dibeli satu aja, dari pagi belum makan" ucapnya lirih, bisa ditebak, bukan simpati yg mereka dapat, saya makin kesal dan kami kembali ke kendaraan kami dan pergi menjauh tanpa sempat menikmati udara sejuk pegunungan.

Bagaimana bisa seorang pedagang acung demikian gigihnya menjual barang dagangan mereka? saya yakin itu karena himpitan ekonomi, ibu dari salah seorang teman saya merupakan salahsatu dari sekian banyak pedagang acung dikawasan pariwisata, bahkan teman saya mampu menamatkan bangku perkuliahan salahsatunya dibiayai dari hasil keringat ibunya yang berjualan pernak-pernik dikawasan wisata. Inilah maksud dari tulisan saya kali ini, antara himpitan ekonomi dan gangguan pariwisata, yang mana menurut anda benar?

Melarang para pedagang acung berjualan dikawasan wisata tentu saja dirasa tidak adil bagi mereka, bagaimana mungkin kita melarang seseorang untuk menafkahi keluarga mereka? namun cara jualan yg arogansi juga malah akan membuat segalanya makin buruk, kawasan wisata yg terkenal akan arogansi dari para pedagang acung akan membuat kita berfikir dua kali untuk lancong kesana.

Bali merupakan tempat wisata yang dilirik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara karena bali terkenal akan budaya dan keindahan alamnya yang tentu saja apabila dikelola dengan cara yang lebih profesional akan menyumbangkan devisa yg berlipat kali lebih besar bagi negara. Salahsatu cara pengelolaan pedagang acung adalah dengan membuat suatu kawasan tersendiri untuk berjualan, misalkan disediakan stand untuk berjualan, dan para guide setempat menggiring wisatawannya untuk mengunjungi kawasan tsb, saya rasa daerah wisata yg menyediakan stand kesenian lokal akan menambah nilai plus bagi daerah wisata itu sendiri.

Saya ambil contoh daerah wisata pegunungan bedugul di kabupaten Tabanan yg terkenal akan wisata taman rekreasi dengan produk lokal yg dijual adalah hasil kebun dan tanaman hias, begitu juga daerah batubulan-gianyar yg menjual kerajinan patung batu dan kayu, serta beberapa tempat lainnya dengan ciri khas daerah dengan produk lokalnya tersendiri yang tentunya menghasilkan keanekaragaman yang menjadi daya tarik tersendiri sehingga wisatawan betah berlama-lama di bali.

Demikian tulisan saya, ini murni dari pengalaman dan ide saya sendiri, masukan dari pembaca sekalian sangat berarti bagi saya.
Thanks for your comment