Dua agama, dua kemenangan pada Agustus 2012

Agustus 2012 merupakan bulan yang sangat spesial di Indonesia, selain memperingati hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, juga merupakan bulan kemenangan bagi Umat Islam dan Hindu di Bali. Dua agama, dua kemenangan pada bulan Agustus 2012.

20 Agutus 2012 umat Islam merayakan Idul Fitri.
Seperti yang dilansir oleh Wikipedia.org, Idul Fitri merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau hari raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya, apabila dilihat dari penanggalan Masehi.

Idul Fitri menandai berakhirnya Puasa pada Bulan Ramadan, diawal pagi hari selalu dilaksanakan Salat Idul Fitri(Salat Led). Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, sehingga harus berpisah.

Menurut Depnakertrans.go.id, Idul Fitri berarti kembali ke Fitrah, yakni "Asal kejadian" atau "Kesucian" atau "Agama yang benar". Maka setiap orang yang merayakan Idul Fitri dianggap sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga memperoleh kemenangan.


29 Agustus 2012 Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan.
Seperti yang dilansir oleh Parisada.org, Galungan adalah Hari Raya Suci Umat Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu Saptawara dan Pancawara. Umat Hindu dengan penuh rasa bakti melaksanakan rangkaian Hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual Keagamaan.

Pada hakekatnya Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan menegaskan kemenangan Dharma(Kebaikan) melawan Adharma(Keburukan, Kejahatan). Konteksnya adalah introspeksi diri dan sadar siapa sesungguhnya jati diri kita.

Agar Sang Hyang Atma sadar akan jati dirinya, hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati. Seperti halnya Hari raya Galungan dan Kuningan, yaitu sebelum, saat hari raya, dan setelah hari raya agar manusia tetap teguh dengan kesucian hati dari godaan Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, didalam upaya menegakkan Dharma didalam diri maupun diluar dirinya.

Sesaat Galungan umat Hindu di Bali memasang penjor didepan rumahnya sebagai ‘aturan' atau persembahan tanda puji syukur kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.

Kerukuan antarumat beragama.
I Wayan Pastika, salah satu warga Kabupaten Gianyar, Bali menyebutkan bahwa, kejadian ini merupakan momentum untuk lebih menghayati kembali tentang pentingnya kerukunan hidup antar umat beragama, yaitu terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu Bangsa Indonesia, "Agama merupakan hal yang vital dalam kemajemukan, jika hidup saling menghormati maka tentram lah negara ini, sebaliknya jika penganut antar agama saling hina hancurlah negara ini" ujarnya

Pria yang sangat gemar berbicara tentang adat istiadat Bali ini memberikan tips sederhana dalam membina kerukunan antar umat beragama,"Yang terpenting adalah menghormati, sehingga toleransi pun muncul" ujarnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menghilangkan perasaan curiga atau permusuhan terhadap pemeluk agama lain.

  2. Jangan pernah mengaitkan agama lain terhadap hal buruk yang dilakukan oleh penganutnya.

  3. Jangan mengganggu umat lain yang beribadah.

  4.  Hindari diskriminasi terhadap agama lain.
Thanks for your comment