Manis-pahit menjadi operator Poli Gigi Puskesmas di tahun 2013



Sebagai seorang tenaga kesehatan dan bekerja di salah satu institusi pemerintahan seperti Puskesmas tentunya sudah sering merasakan manis pahitnya saat melayani pasien. Dimarahi akibat penanganan yang kurang memuaskan hingga dapat bonus tertentu yang tak disangka-sangka karena dianggap telah berjasa bagi seseorang.

Nah beragam pengalaman tersebut akan saya tulis dalam beberapa cerita, ga banyak-banyak biar Sobat Reader ga cepat bosan.

Petugas Poli Gigi datang terlambat.

Sebagai manusia tentunya tidak luput dari kesalahan, termasuk datang terlambat entah disengaja maupun tidak disengaja. Biasanya sih karena memang tidak disengaja, mana mungkin bangun kesiangan itu disengaja kecuali alarm yang diandalkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana mungkin bisa datang tepat waktu jika sewaktu-waktu ada pengalihan jalan dadakan yang sering kali menyebabkan macet. Atau pernah juga kami kehabisan bensin dijalan akibat kebanyakan pertamina kehabisan pasokan bahan bakar. Di Bali pernah kejadian pasokan pertamina ngadat gara-gara jalur transportasi mobil tangki yang rusak, selama 3 hari ga ada pasokan bensin sedangkan harga BBM di ‘Pertamini’ langsung meroket.

Well, kebanyakan pegawai terlambat karena keadaan walaupun secara peraturan tidak ada alasan untuk itu. Alhasil dapat TK(Tanpa Keterangan) di absensi kehadiran.

Bengkaknya ga sembuh-sembuh, Pak Dokter!


Waduh, gimana mau sembuh kalo obatnya Generik, Bos!
Maaf, bukannya saya meragukan obat-obatan yang tersedia di Puskesmas, hanya saja jika penyakit sudah lebih hebat dari dosis obat yang ada di Puskesmas maka jangan berharap bisa cepat sembuh dari penyakit. Biasanya pasien Poli Gigi di tempat saya bekerja selalu datang dengan keluhan berat, contoh yang paling sering adalah bengkak disertai nanah.

Secara kasarnya operator akan berusaha mengeluarkan nanah, membersihkan sekitar luka, memberikan antibiotic, penghilang rasa sakit dan obat untuk mengurangi pembengkakan. Terakhir intruksi seperlunya seperti kompres air hangat atau kumur-kumur pakai air garam hangat.

Tiga hari kemudian pasien datang lagi dan masih bengkak, tiga harinya kemudian datang lagi dan lagi. Pasien protes,”Pak, cabut aja nih gigi saya, bengkak kok ga sembuh-sembuh!!”.

Sebagai operator jadinya memang serba salah, dikasi obat Puskesmas kurang mumpuni. dikasi resep, Apotek terdekat jaraknya 50Km, dibawain obat kelas wahid dengan harga fantastis jg tidak diperbolehkan, sedangkan kalau gigi dicabut saat masih infeksi itu berbahaya. Jika Anda dalam kondisi seperti ini apa yang akan Anda lakukan? 

Saya datang untuk ngecek pelayanan disini.

Suatu hari ada pasien bertampang sangar, bodinya gede dan tatoan, mirip pagar betis kepresidenan. Jika ditambahkan jas dan kacamata hitam maka saya yakin jadi mirip mafia ala film-film di Hollywood. Dengan tampang sangar dan nada berat, (sebut saja) Pak Sangar memulai percakapan dengan nada serius yang dibuat-buat.

“Selamat siang, saya ingin mengecek pelayanan disini agar bisa dilaporkan ke pusat” katanya, pusat? Apa yang dimaksud dengan pusat disini? Saya hanya mengenal istilah Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasanya jika ada inspeksi maka yang hadir adalah petugas berseragam lengkap, sedangkan yang didepan saya adalah bapak-bapak dengan setelan kemeja namun pakai celana training hijau.

“Iya silakan, Bapak dari mana?” Tanya saya kebingungan.

“Saya petugas korlap, cabang bla..bla..bla.. dan ditempatkan didaerah sini, saya bisa melaporkan semua pelayanan yang ada disini ke pusat” Pusat lagi katanya, setahu saya korlap yang dimaksud disini adalah koordinator lapangan alias cabang organisasi tertentu yang dibuat masyarakat.

"Saya kesini mau cabut gigi, sekalian ingin tahu pelayanan yang Bapak berikan ke masyarakat" Tambahnya lagi, oke saat ini yang saya tangkap nih orang mau nyabut gigi dan sambil mejeng atas nama Korlap tertentu, permasalahannya gigi si Bapak sedang bermasalah.

"Pak, gigi yang ini masih infeksi, ada pembengkakan dan seharusnya infeksi kita kurangi dulu, baru bisa dicabut" kata saya menjelaskan, namun sialnya si Bapak Sangar masih kukuh akan keinginannya,"Ga apa-apa cabut saja, sekalian biar ada yang bisa saya laporkan ke pusat".

So, Gue lagi diancam nih?

Trims, Pak Dokter. Gigi saya sudah beres.

Suatu hari Pak Rata datang sambil membawa satu kresek jeruk khas daerah setempat, ukurannya sedang-sedang saja dan kalau dihitung-hitung pakai timbangan berat badan balita yang ada di Poli KIA/KB beratnya mencapai 5KG. Mesti gue apain nih jeruk?

Di tempat saya bekerja, jika Anda sanggup memuaskan pelanggan maka reward yang didapat bisa diluar perkiraan. Di Poli Gigi yang namanya kepuasan pelanggan itu adalah kita dapat memberikan perawatan tuntas yang bisa bikin pasien cepat sembuh, dalam kasus ini si pasien sembuh hanya dengan sekali berobat di saya. Berbeda dengan pengalaman sahabat saya yang bertugas di daerah yang terpencil, dengan "memuaskan pelanggan" doi dapat sekantong penuh bawang merah dari saudagar perkebunan didaerahnya bekerja.

Yang namanya kesembuhan itu berasal dari pasien dan tentunya atas ijin yang di atas, petugas hanya mampu membantu seperlunya. Namun jika hadiah yang didapat bersifat kagetan maka patutnya disyukuri saja.

Sebenarnya pengalaman manis-pahit menjadi operator Poli Gigi Puskesmas di tahun 2013 itu banyak, dan saya yakin jika semua pengalaman tersebut ditulis dalam satu postingan Anda akan menekan tombol closed tanpa selesai membaca postingan ini secara keseluruhan.

Sekian.


2 komentar

Click here for komentar
29 Desember 2013 11.32 ×

Yaampun,
Aku ke dokter gigi sebulan sekali :)

Reply
avatar
29 Desember 2013 11.57 ×

Sebulan sekali untuk ganti karet behel pastinya ;)

Reply
avatar
Thanks for your comment