Rejang Marathon Photography di Desa tista, karangasem

Apa sih yang paling ditunggu setelah hari raya Kuningan di Bali? jika Anda bertanya kepada saya tentu saja jawabannya adalah Berburu Rejang.

Pada saat manis Kuningan, yaitu sehari setelah hari raya Kuningan itu sendiri, Kota Karangasem selalu menjadi destinasi wisata fotografi bagi para fotografer pecinta adat dan budaya Bali. di Kota ini biasanya banyak ritual yang menandai dimulainya Piodalan (Hari Raya) khususnya yang berlangsung di Pura Desa.

Tari Rejang memiliki simbolis tarian para dewi yang menuntun Dewa-Dewi turun dari langit. Tari rejang sendiri memiliki banyak varian tergantung dari daerah masing-masing. hal tersebut berarti, tari Rejang antar daerah memiliki jenis gerakan dan musik gamelan yang berbeda, atau serupa tapi tak sama.

Rejang Marathon Photography pertama tentu saja di daerah paling difavoritkan dari tahun ketahun, nama daerah tersebut adalah Tista Gede dari Kecamatan Abang.








Selanjutnya adalah Rejang Marathon Photography ke-dua, yaitu berlokasi di desa Ngis Tista. lokasi ini tidak jauh dari Desa Tista gede.





Pertanyaannya, kenapa penarinya cilik-cilik semua? menurut warga setempat, rejang di Pura Ngis Tista tidak diwajibkan harus anak-anak atau remaja. Karena sifatnya yang campur sari, kebanyakan yang sudah menginjak remaja merasa minder. Sayang sekali..

Rejang Phorography Marathon ke-tiga berlokasi di Pura Lempuyang Agung, yaitu 3,2Km kearah timur dari jalan utama Desa Tista. Yang paling unik dari rejang ini adalah kain rajutan yang dikaitkan dari satu penari ke penari lainnya.




The Leader
Daya tarik utama Rejang Pura Lempuyang Agung adalah gerak gemulai perpaduan antara olah pinggang dan gerakan tangan. Ciri utama rejang ini adalah membentuk gerakan ombak.

Rejang Marathon Photography ke-empat adalah Pura Puseh Basang Alas. Lokasi tampak sangat apik mengingat para penari Rejang berlenggok gemulai sambil mengitari pohon besar ditengahnya.




Sayangnya tidak banyak foto yang bisa diambil di lokasi ini, baru foto sebentar dan tarian pun berakhir.

Terakhir adalah Rejang Marathon photography ke-lima dengan lokasi yang cukup jauh dari Kecamatan Abang, yaitu Desa Pekraman Asak.






Berbeda dari rejang kebanyakan, Rejang di Desa Asak justru dimulai saat sandikala (magrib) yang dimulai dari ritual mengelilingi beberapa pura sambil mekidung. Berhubung keadaan sudah cukup gelap maka fotografi dengan kamera standar dirasa cukup sulit untuk dilakukan.

Mengapa berburu Rejang cukup difavoritkan penggiat fotografi? tidak hanya rejang, apapun yang berbau adat dan budaya wajib untuk didokumentasikan, selain merupakan tanggung jawab moral bagi fotografer terhadap kekayaan budaya lokalnya fotografi budaya juga banyak diminati pecinta fotografi diseluruh dunia. Sederhananya sih, dalam sekali jepret kita menangkap budaya lokal dan dapat dipamerkan ke berbagai belahan dunia.

Bukankah seni fotografi itu untuk dipamerkan?
Thanks for your comment